Bagian Pertama — 1932
Pembangunan oleh Kolonial
Sejarah panjang Situ Gintung bermula pada masa kejayaan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada rentang waktu 1932 hingga 1933, pemerintah kolonial mencanangkan pembangunan infrastruktur perairan besar-besaran di pinggiran Batavia. Bendungan ini secara spesifik dibangun sebagai waduk penampungan air raksasa untuk menyokong tingginya kebutuhan irigasi pertanian di wilayah yang kini kita kenal sebagai Tangerang Selatan.
Para insinyur Belanda pada masa itu merancang konstruksi earth dam atau tanggul urukan tanah homogen. Mereka membendung aliran alami dari Kali Pesanggrahan, yang kemudian menciptakan sebuah ekosistem perairan baru seluas 31 hektare. Pada masa itu, waduk ini memiliki kedalaman belasan meter dengan kapasitas tampung maksimum mencapai 2,1 juta meter kubik air. Sebuah mahakarya rekayasa hidrologi yang berdiri megah di tengah bentang alam yang masih didominasi oleh rimbunnya hutan karet dan perkebunan warga.
Pada era keemasannya, struktur bendungan tanah ini beroperasi dengan sangat sempurna. Air dari Situ Gintung secara konstan dialirkan melalui pintu-pintu irigasi untuk mengairi ribuan hektare lahan persawahan di kawasan Ciputat, Pamulang, dan sekitarnya. Selama berpuluh-puluh tahun, danau buatan ini benar-benar menjadi detak jantung yang menghidupi denyut nadi agraris masyarakat lokal.
Bagian Kedua — 1970-an
Transisi & Urbanisasi
Memasuki dekade 1970-an hingga 1990-an, wajah kawasan Situ Gintung mulai mengalami transformasi yang dramatis. Seiring pesatnya laju urbanisasi dari ibu kota Jakarta yang melebar ke arah selatan, lahan-lahan pertanian produktif yang awalnya membentang luas berangsur-angsur menyusut, berganti menjadi hutan beton dan perumahan padat penduduk.
Konsekuensi dari urbanisasi ini sangat signifikan: pintu-pintu air irigasi peninggalan Belanda perlahan kehilangan fungsi utamanya karena sawah-sawah telah mengering. Masyarakat dan pengembang swasta kemudian mulai melihat potensi lain dari keindahan danau ini. Kawasan Situ Gintung lantas disulap menjadi destinasi wisata favorit bagi warga ibu kota yang ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk kota. Tepi danau diramaikan dengan berdirinya Taman Wisata Pulau Situ Gintung (APSG), lengkap dengan restoran, kolam renang komersial, dan berbagai fasilitas outbound.
Namun, di balik riuhnya pariwisata yang membawa keuntungan ekonomi, terjadi degradasi lingkungan yang tidak terelakkan. Luas perairan Situ Gintung menyusut drastis dari 31 hektare menjadi hanya sekitar 21,4 hektare. Pendangkalan (sedimentasi) yang masif, invasi gulma air, penumpukan sampah domestik, dan banyaknya permukiman yang merangsek masuk hingga ke bibir spillway (pelimpas air) perlahan namun pasti mulai melemahkan struktur bendungan tua tersebut.
Bagian Ketiga — 27 Maret 2009
Tragedi Subuh Kelam
Jumat subuh, tanggal 27 Maret 2009, menjadi salah satu catatan sejarah paling memilukan bagi bangsa Indonesia. Tanggul tanah bersejarah yang telah berdiri selama 76 tahun itu akhirnya menyerah pada besarnya tekanan alam. Fenomena erosi internal (piping)—di mana air perlahan menggerus tanah dari dalam tubuh tanggul yang sudah rapuh karena kurangnya perawatan rutin—menjadi bom waktu yang tak terdeteksi.
Kondisi kritis ini diperparah oleh cuaca ekstrem; hujan deras tiada henti yang mengguyur sejak petang sebelumnya membuat debit air Situ Gintung melonjak tak terkendali. Sekitar pukul 04:00 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap, air meluap melampaui kapasitas spillway dan mulai menggerus bibir tanggul atas. Tak lama setelah itu, struktur tanggul jebol sepenuhnya.
"Lebih dari 2 juta meter kubik air bah tumpah ruah bagaikan tsunami kecil, menyapu bersih ratusan rumah di permukiman Cirendeu hanya dalam hitungan menit."
Banjir bandang berlumpur setinggi lebih dari 4 meter itu memporak-porandakan apa saja yang dilewatinya. Tragedi mengerikan ini merenggut lebih dari 100 nyawa manusia, dan menyebabkan ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal. Momen duka ini menyentak kesadaran nasional. Tim SAR gabungan, TNI, dan ribuan relawan bahu-membahu mengevakuasi korban. Bencana ini menjadi tamparan keras yang membuka mata pemerintah dan masyarakat tentang fatalnya melanggar batas aman sempadan danau serta krusialnya pemeliharaan infrastruktur vital peninggalan masa lalu.
Bagian Keempat — 2011 hingga Kini
Kebangkitan & Konservasi
Merespons tragedi kemanusiaan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum bergerak cepat merancang ulang seluruh infrastruktur tanggul. Pemulihan ini memakan waktu kurang lebih dua tahun. Pada penghujung tahun 2011, Situ Gintung lahir kembali dengan wajah dan spesifikasi keamanan yang sama sekali baru.
Tanggul yang sebelumnya hanya berupa urukan tanah, kini dibangun menggunakan metode earth fill yang diperkuat dengan inti beton dan penurapan batu berlapis baja (bronjong). Lebih dari itu, sebuah struktur pelimpas (spillway) bertipe morning glory—menyerupai corong raksasa yang elegan—dibangun di tengah danau untuk memastikan tinggi muka air selalu terkendali dengan sangat presisi, berapapun curah hujan yang turun. Status hukumnya pun diperkuat melalui PP No. 37 Tahun 2010; dari sekadar situ biasa menjadi Bendungan Gintung yang berada di bawah pengawasan ketat keamanan bendungan nasional.
Hari ini, Situ Gintung telah bangkit dari mimpi buruknya dan bertransformasi menjadi kawasan konservasi ekologis yang menakjubkan. Dikelilingi oleh lintasan lari (jogging track) yang nyaman, rindangnya deretan pohon cemara, dan sebuah tugu peringatan (Monumen Situ Gintung) untuk mengenang para korban, tempat ini tidak sekadar menjadi zona pengendali banjir. Situ Gintung telah kembali menjadi "paru-paru kota" dan ruang ketiga tempat di mana masyarakat urban modern dapat kembali merangkul keindahan dan kedamaian alam.